Melestarikan Kearifan Lokal Melalui Kurikulum Pendidikan dalam Membangun Nilai Karakteristik Peserta Didik
DOI:
https://doi.org/10.69896/modeling.v10i1.1894Keywords:
Kearifan Lokal, Kurikulum Pendidikan, Nilai KarakterAbstract
Kearifan lokal local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik dan sarat akan nilai moral, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis melalui enkulturasi, yaitu proses pewarisan sesuatu masyarakat dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Kurikulum Pendidikan adalah seperangkat rencana dan pengaturan dalam pembelajaran berupa isi pelajaran, tata cara mengajar, dll yang dijadikan pedoman dalam belajar mengajar untuk mencapai aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan ketrampilan (psikomotorik). Pendidikan karakter adalah usaha secara sadar untuk membantu mengembangkan karakteristik individu secara optimal dalam memahami, memperdulikan dan melaksanakan nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengedepankan nilai-nilai yang berperadaban sesuai dengan karakteristik bangsa yang dicanangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 87 tahun 2017, bahwasannya tujuan penguatan pendidikan karakter yakni membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045. Sesuai jiwa pancasila dengan mengembangkan paltform pendidikan nasional, yang meletakan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dengan dukungan publik dilakukan melalui pendidikan formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan keberagaman budaya Indonesia.
Downloads
References
Arikunto. et.al. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. 2006.
Hadi, Sutriso. Metodologi Research, Jilid I. Yogyakarta: Andi Offset. 2001.
Haryanto, Joko Tri. Kontribusi Ungkapan Tradisional Dalam Membangun Kerukunan Beragama. Jurnal Walisongo : 21 – 02. November 2013.
Haryanto, Joko Tri. Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama Pada Komunitas Tengger Malang Jatim. Jurnal Analisa: 21 – 02. Desember 2014.
Hikmat, Harry. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung : Humaniora Utama Press. 2010.
Kholil, Syukur. Metodologi penelitian. Bandung: Citapusaka Media. 2006.
Moleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2002.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
Ratna, Nyoman Kutha. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur. Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.
Ratna, Nyoman Kutha. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007.
Rochgiyanti. dkk. Kearifan Lokal Orang Dayak Barakumpai di Lahan Basah. Yogyakarta: Aynat Publishing. 2014.
Simanjuntak, B.A. Korelasi Kebudayaan & Pendidikan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 2014.
Suharjo. Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Direktorat Ketenagaan. 2006.
Susilo, D. Rahmat K. Sosiologi Lingkungan. Jakarta : Rajawali Press. 2009.
Sutarno. Pendidikan Multikultural. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Sutarso, Joko. Menggagas Pariwisata Berbasis Budayadan Kearifan Lokal. Jurnal UMS: 04. 2012.
Wahyudi, A. Implementasi Sekolah Berbasis Kearifan Lokal Di Sd Negeri Sendangsari Pajangan. Yogyakarta: Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta. 2014.
Wibowo. A. dan Gunawan. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. 2015.
Yusuf Wibi Sono, “Pendidikan Berbasis Kearifan Lokalâ€, http://garasikeabadian.blogspot.com/2013/03/pendidikan-berbasis-kearifan-lokal.html ; Diakses tanggal 08 Januari 2019.







